Rabu, 22 September 2010

Sosiologi Pendidikan

Sosiologi Pendidikan
1. Pengertian sosiologi pendidikan
Sosiologi pendidikan terdiri dari dua kata, sosiologi dan pendidikan. Kedua istilah ini dari segi etimologi tentu saja berbeda maksudnya, namun dalam sejarah hidup dan kehidupan serta budaya manusia, kedua ini menjadi satu kesatuan yang terpisahkan. Terutama dalam system memberdayakan manusia, dimana sampai saat ini memanfaatkan pendidikan sebagai instrument pemberdayaan tersebut11.
Beberapa pemikiran pakar mengenai sosiologi pendidikan yang dikemukakan oleh Ahmadi (1991). Menurut George Payne, yang kerap disebut sebagai bapak sosiologi pendidikan, mengemukakan secara konsepsional yang dimaksud dengan sosiolgi pendidikan adalah by educational sosiologi we the science whith desribes andexlains the institution, social group, and social processes, that is the spcial relationships in which or through which the individual gains and organizes experiences”. Payne menegaskan bahwa, di dalam lembaga-lembaga, kelompok-kelompok social, proses social, terdapatlah apa yang yang dinamakan social itu individu memproleh dan mengorganisir pengalamannya-pengalamannya. Inilah yang merupaka asepek-aspek atau prinsip-prinsip sosiologisnya.
Charles A. Ellwood mengemukakan bahwa Education Sosiologi is the sciense aims to reveld the connetion at all points between the cdukative process and the social, sosiologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari menuju untuk melahirkan maksud hubungan-hubungan antara semua pokok-pokok masalah antara proses pendidikan dan proses social.
Menurut E.B Reuter, sosiologi pendidikan mempunyai kewajiban untuk menganalisa evolusi dari lembaga-lembaga pendidikan dalam hubungannya dengan perkembangan manusia, dan dibatasi oleh pengaruh-pengaruh dari lembaga pendidikan yang menentukan kepribadian social dari tiap-tiap individu. Jadi perinsipnya antara individu dengan lembaga-lembaga social itu selalu saling pengaruh mempengaruhi (process social interaction).
F.G Robbins dan Brown mengemukakan bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu yang membicarakan dan menjelaskan hubungan-hubungan social yang mempengaruhi individu untuk mendapatkan serta mengorganisasi pengalamannya. Sosiologi pendidikan mempelajari kelakukan social serta perinsip-perinsip untuk mengontrolnya.
E.G Payne secara spesifik memandang sosiolgi pendidikan sebagai studi yang konfrenhensif tentang segala aspek pendidikan dari segi ilmu yang diterapkan. Bagi Payne sosiologi pendidikan tidak hanya meliputi segala sesuatu dalam bidang sosiologi yang dapat dikenakan analisis sosiologis. Tujuan utamanya ialah memberikan guru-guru, para peneliti dan orang lain yang menaruh perhatian akan pendidikan latihan yang serasi dan efektif dalam sosiologi yang dapat memberikan sumbangannya kepada pemahaman yang lebih mendalam tentang pendidikan (Nasution 1999:4)
Menurut Dictionary of Socialogy, sosiologi pendidikan ialah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental.
Menurut Prof. DR.S.Nasution. Sosiologi pendidikan ialah ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan kepribadian individu agar lebih baik.
Menurut F.G. Robbins, Sosiologi pendidikan adalah sosiologi khusus yang bertugas menyelidiki struktur dan dinamika proses pendidika.
Menurut penulis, Sosiologi pendidikan ialah ilmu pengetahuan yang berusaha memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analisis atau pendekatan sosiologis.
Dengan berbagai definisi tersebut diatas menunjukkan bahwa sosiologi pendidikan merupakan bagian dari matakuliah-matakuliah dasar-dasar kependidikan di lembaga pendidikan tenaga kependidikan dan sifatnya wajib diberikan kepada seluruh peserta didik.
1. Tujuan sosiologi pendidikan
Francis Broun mengemukakan bahwa sosiologi pendidikan memperhatikan pengaruh keseluruhan lingkungan budaya sebagai tempat dan cara individu memproleh dan mengorganisasi pengalamannya. Sedang S. Nasution mengatakan bahwa sosiologi pendidikan adalah Ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk memproleh perkembangan kepribadian individu yang lebih baik. Dari kedua pengertian dan beberapa pengertian yang telah dikemukakan dapat disebutkan beberapa konsep tentang tujuan sosiologi pendidikan, yaitu sebagai berikut:
1.
1. Sosiologi pendidikan bertujuan menganalisis proses sosialisasi anak, baik dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dalam hal ini harus diperhatiakan pengaruh lingkungan dan kebudayaan masyarakat terhadap perkembangan pribadi anak. Misalnya, anak yang terdidik dengan baik dalam keluarga yang religius, setelah dewasa/tua akan cendrung menjadi manusia yang religius pula. Anak yang terdidik dalam keluarga intelektual akan cendrung memilih/mengutamakan jalur intlektual pula, dan sebagainya.
2. Sosiologi pendidikan bertujuan menganalisis perkembangan dan kemajuan social. Banyak orang/pakar yang beranggapan bahwa pendidikan memberikan kemungkinan yang besar bagi kemajuan masyarakat, karena dengan memiliki ijazah yang semakin tinggi akan lebih mampu menduduki jabatan yang lebih tinggi pula (serta penghasilan yang lebih banyak pula, guna menambah kesejahteraan social). Disamping itu dengan pengetahuan dan keterampilan yang banyak dapat mengembangkan aktivitas serta kreativitas social.
3. Sosiologi pendidikan bertujuan menganalisis status pendidikan dalam masyarakat. Berdirinya suatu lembaga pendidikan dalammasyarakat sering disesuaikan dengan tingkatan daerah di mana lembaga pendidikan itu berada. Misalnya, perguruan tinggi bisa didirikan di tingkat propinsi atau minimal kabupaten yang cukup animo mahasiswanya serta tersedianya dosen yang bonafid.
4. Sosiologi pendidikan bertujuan menganalisis partisipasi orang-orang terdidik/berpendidikan dalam kegiatan social. Peranan/aktivitas warga yang berpendidikan / intelektual sering menjadi ukuan tentang maju dan berkembang kehidupan masyarakat. Sebaiknya warga yang berpendidikan tidak segan- segan berpartisipasi aktif dalam kegiatan social, terutama dalam memajukan kepentingan / kebutuhan masyarakat. Ia harus menjadi motor penggerak dari peningkatan taraf hidup social.
5. Sosiologi pendidikan bertujuan membantu menentukan tujuan pendidikan. Sejumlah pakar berpendapat bahwa tujuan pendidikan nasional harus bertolak dan dapat dipulangkan kepada filsafat hidup bangsa tersebut. Seperti di Indonesia, Pancasila sebagai filsafat hidup dan kepribadian bangsa Indonesia harus menjadi dasar untuk menentukan tujuan pendidikan Nasional serta tujuan pendidikan lainnya. Dinamika tujuan pendidikan nasional terletak pada keterkaitanya dengan GBHN, yang tiap 5 (lima) tahun sekali ditetapkan dalam Sidang Umum MPR, dan disesuaikan dengan era pembangunan yang ditempuh, serta kebutuhan masyarakat dan kebutuhan manusia.
6. Menurut E. G Payne, sosiologi pendidikan bertujuan utama memberi kepada guru- guru (termasuk para peneliti dan siapa pun yang terkait dalam bidang pendidikan) latihan – latihan yang efektif dalam bidang sosiologi sehingga dapat memberikan sumbangannya secara cepat dan tepat kepada masalah pendidikan. Menurut pendapatnya, sosiologi pendidikan tidak hanya berkenaan dengan proses belajar dan sosialisasi yang terkait dengan sosiologi saja, tetapi juga segala sesuatu dalam bidang pendidikan yang dapat dianalis sosiologi. Seperti sosiologi yang digunakan untuk meningkatkan teknik mengajar yaitu metode sosiodrama, bermain peranan (role playing) dan sebagainya.dengan demikian sosiologi pendidikan bermanfaat besar bagi para pendidik, selain berharga untuk mengalisis pendidikan, juga bermanfaat untuk memahami hubungan antara manusia di sekolah serta struktur masyarakat. Sosiologi pendidikan tidak hanya mempelajari masalah – masalah sosial dalam pendidikan saja, melainkan juga hal – hal pokok lain, seperti tujuan pendidikan, bahan kurikulum, strategi belajar, sarana belajar, dan sebagainya. Sosiologi pendidikan ialah analisis ilmiah atas proses sosial dan pola- pola sosial yang terdapat dalam sistem pendidikan.
Jika dilihat zaman peradaban yunani pada masa Plato (427-327 BC), pendidikannya lebih mengutamakan penciptaan manusia sebagai pemikir, kemudian sebagai ksatria dan penguasa. Pada zaman Romawi, seperti masa kehidupan Cicero (106-43 BC),2 pendidikan mengutamakan penciptaan manusia yang hmanistis. Pada abad pertengahan, pendidikan mengutamakan menjadikan manusia sebagai pengabdi Khalik (baik versi Islam maupun versi Kristiani). Pada abad pertengahan (1600-an-1800-an), melahirkan teori Nativisme (Rousseau, 1712-1778), Empirisme oleh Locke (1632-1704) dan konvergensi oleh Stern (1871-1939). Semuanya cendrung kepada nilai individu anak sebagai manusia yang memiliki karakteristik yang unik.
Menurut Nasution (1999:2-4) ada beberapa konsep tentang tujuan Sosiologi Pendidikan, antara lain sebagai berikut:
1. analisis proses sosiologi (2) analisis kedudukan pendidikan dalam masyarakat, (3) analisis intraksi social di sekolah dan antara sekolah dengan masyarakat, (4) alat kemajuan dan perkembangan social, (5) dasar untuk menentukan tujuan pendidikan, (6) sosiologi terapan, dan (7) latihan bagi petugas pendidikan.
Konsep tentang tujuan sosiologi pendidikan di atas menunjukkan bahwa aktivitas masyarakat dalam pendidikan merupakan sebuah proses sehingga pendidikan dapat dijadikan instrument oleh individu untuk dapat berintraksi secara tepat di komunitas dan masyarakatnya. Pada sisi yang lain, sosiologi pendidikan akan memberikan penjelasan yang relevan dengan kondisi kekinian masyarakat, sehingga setiap individu sebagai anggota masyarakat dapat menyesuaikan diri dengan pertumbuhan dan perkembangan berbagai fenomena yang muncul dalam masyarakatnya.
Namun demikian, pertumbuhan dan perkembangan masyarakat merupakan bentuk lain dari pola budaya yang dibentuk oleh suatu masyarakat. Pendidikan tugasnya tentu saja memberi penjelasan mengapa suatu fenomena terjadi, apakah fenomena tersebut merupakan sesuatu yang harus terjadi, dan bagaimana mengatasi segala implikasi yang bersifat buruk dari berkembangnya fenomena tersebut, sekaligus memelihara implikasi dari berbagai fenomena yang ada.
Tujuan sosiologi pendidikan pada dasarnya untuk mempercepat dan meningkatkan pencapaian tujuan pendidikan secara keseluruhan. Karena itu, sosiologi pendidikan tidak akan keluar darim uapaya-upaya agar pencapaian tujuan dan fungsi pendidikan tercapai menurut pendidikan itu sendiri. Secara universal tujuan dan fungsi pendidikan itu adalah memanusiakan manusia oleh manusia yang telah memanusia. Itulah sebabnya system pendidikan nasional menurut UUSPN No. 2 Tahun 1989 pasal 3 adalah “ untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujaun nasional”. Menurut fungsi tersebut jelas sekali bahwa pendidikan diselenggarakan adalan: (1) untuk mengembangkan kemampuan manusia Indonesia, (2) meningkatkan mutu kehidupan manusia Indonesiam (3) meningkatkan martabat manusia Indonesia, (4) mewujudkan tujuan nasional melalui manusia-masusia Indonesia. Oleh karena itu pendidikan diselenggarakan untuk manusia Indonesia sehingga manusia Indonesia tersebut memiliki kemampuan mengembangkan diri,mmeningkatkan mutu kehidupan, meninggikan martabat dalam ragka mencapai tujuan nasional.
Upaya pencapaian tujuan nasional tersebut adalah untuk menciptakan masyarakat madani, yaitu suatu masyarakat yang berpradaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang sadar akan hak dan kewajibannya, demokratis, bertanggungjawab, berdisiplin, menguasai sumber informasi dalam bidang iptek dan seni, budaya dan agama (Tilaar, 1999). Dengan demikian proses pendidikan yang berlangsung haruslah menciptakan arah yang segaris dengan upaya-upaya pencapaian masyarakat madani tersebut.
Menurut pandangan Nurcholis Majid mengemukakan bahwa masyarakat madani itu adalah masyarakat yang berindikasi seperti termaktub dalam piagam madinah pada zaman Rasulullah Muhammad SAW (Tilaar, 2000).
Saat ini kita mengalami perubahan yang begitu cepat dan drastic, sehingga terjadi perubahan nilai dan menciptakan perbedaan dalam melihat berbagai nilai yang berkembang dalam masyarakat. Menurut Langgulung (1993:389) “kelompokpertama melihat nilai-nilai lama mulai runtuh sedangkan nilai-nilai baru belum muncul yntuk menggantikan yang lama, sedang kelompok kedua melihat keruntuhan nilali-nilai lama itu, tetapi dalam waktu yang bersamaan dapat melihat bagaimana nilai-nilai lama itu, menyelinap masuk kedalam nilai-nilai baru dan membantu menegakkannya”.
Perubahan nilai-nilai dalam masyarakat bukan berarti tidak terperhatikan oleh masyarakat. Namun dalam memperhatikan nilali-nilai yang berkembang tersebut, arah yang menjadi anutan antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya tidaklah sama. Tidak semua masyarakat secara terarah memahami arah dan tujuan hidup secara benar. Arah dan tujuan yang benar menurut Mulkham (1993:195) adalah “secara garis besar arah dan tujuan hidup manusia dapat dikelompokkan menjadi tiga tahap. Tahap pertama, mengenai kebenaran, tahap kedua, memihak kepada kebenaran dan tahap terakhir adalah berbuat ikhsan secara dan secara individual maupun social yangb terealisasi dalam laku ibadah”.
Sampai saat ini pendidikan dianggap dapat dijadikan sebagai sarana yang efektif dalam menyadarkan manusia baik sebagai individu maupun sebagai anggota komunitas dan masyarakat. Pendidikan akan mengembangkan kecerdasan dan penguasaan ilmu pengetahuan, pada sisi yang lain agama akan semakin popular dan terinternalisasi dalam diri setiap pemeluknya, jika diberikan melalui pendidikan.
1. Masyarakat sebagai ruang lingkup pembahasan sosiologi pendidikan
Sosiologi disebut juga sebagai ilmu Masyarakat atau ilmu yang membicarakan masyarakat., maka perlu diberikan pengertian tentang masyarakat. Berikut ini adalah pengertian yang diberikan oleh beberapa pakar sosiologi:
1. Masyarakat merupakan jalinan hubungan social, dan selalu berubah. (Mac Iver dan Page).
2. Masyarakat adalah kesatuan hidup makhluk-makhluk manusia yang terikat oleh suatu system adat istiadat tertentu. (Koentjaraningkat).
3. Masyarakat adalah tempat orang-orang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaa. (Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi).
Menurut Soerjono Soekanto, ada 4 (empat) unsure yang terdapat dalam masyarakat, yaitu:
1. Adanya manusia yang hidup bersama, (dua atau lebih)
2. Mereka bercampur untuk waktu yang cukup lama, yang menimbulkan system komunikasi dan tata cara pergaulan lainnya.
3. Memiliki kesadaran sebagai satu kesatuan
4. Merupakan system kehidupan bersama yang menimbulkan kebudayaan.
Komunitas (communiti) adalah suatu daerah/wilayah kehidupan social yang ditandai oleh adanya suatu derajat hubungan social tertentu. Dasar dari suatu komunitas adalah adanya lokasi (unsure tempat) dan perasaan sekomunitas. (Mac Iver dan Page).
Contohnya: 1). Komunitas yang sangat besar adalah Negara, persekutuan Negara-negara. 2). Komunitas yang besar, adalah kota, dan 3). Komunitas kecil adalah desa pertanian, rukun tetangga, dan sebagainya.
2. Objek sosiologi
Sesuai dengan pengertian sosiologi, maka objek sosiologi, yaitu:
a. Struktur sosial, adalah jalinan dari seluruh unsure sosial
b. Unsure-unsur sosial yang pokok, adalah norma, lembaga sosial, kelompok sosial.
Proses sosilal adalah pengaruh timbale balik antara berbagai segi kehidupan bersama.
Perubahan sosial adalah segala perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga sosial dalam masyarakat yang mempengaruhi system sosial.

Sejarah perkembangan sosisologi
Bowman membagi perkembangan sosiologi dalam 4 fase.
a. Fase pertama,. Dimana psosiologi sebagai bagian dari pandangan tentang kehidupan bersama. Pada fase ini soiologi masih menjadi cabang filsafat.
b. Fase kedua, timbul keinginan-keinginan untuk membangun system berdasarkan pemgalaman-pengalaman dari peristiwa nyata (empiris).
c. Sosiologi pada fase ketiga. Merupakan fase awal dari sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.
d. Fase keempat, cirri utamanya adalah: keinginan untuk bersama-sama memberikan batas yang tegas tentang objek sosiologi sekaligus memberikan / memiliki pengertian-pengertian dan metode-metode sosiologi yang khusus.
Turgot merumuskan 3 fase pertumbuhan;
1. Tingkatan alam pikiran mistik keagamaan yang berpangkal pada suatu hayal.
2. Tingkatan alam pikiran metafisika.
3. Tingkat ilmu pengetahuan pengalaman (empirirs) berdasarkan kenyataan-kenyataan (tingkatan alam pikiran positif).

Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan
Sosiologi dapat memenuhi syarat sebagai ilmu karena;
a. Memilki objek yang jelas
b. Mempergunakan metode-metode ilmiah
c. Merupakan hasil penelitian/penelaahan sosiologi yang tersusun menjadi satu kesatuan yang bulat sistematis, logis, dan saling berhubungan sehingga membedakan diri dengan ilmu lainnya.
Sosiologi memilki cirri-ciri, yaitu;
a. Sosiologi termasuk kelompok ilmu sosial
b. Sosiologi bersifat kategoris
c. Sosiologi termasuk ilmu murni
d. Sosiologi bersifat generalis
e. Sosiologi bersifat abstrak
f. Sosiologi rasional, sekaligus empiris
g. Sosiologi merupakan ilmu yang umum

Kegunaan atau faedah sosiologi, yaitu
a. Untuk pekerjaan sosial, sosiologi memberikan gambaran atau pengertian tentang berbagai problem sosial, asal-usul atau sumber terjadinya, prosesnya, dansebagainya.
b. Untuk pembangunan pada umumnya, sosiologi memberikan pengertian tentang masyarakat secara luas. Hal-hal yang dapat diketahui dari sosiologi untuk pelaksanaan pembangunan antara lain;
1. Kebutuhan / tuntutan masyarakat setempat
2. Stratifikasi sosial
3. Letak pusat-pusat kekuasaan
4. System dan saluran-saluran komunikasi
5. Perubahan-perubahan sosial
Kebudayaan
Kebudayaan merupakan hasil karya dari cipta, rasa dan karsa manusia. Ada beberapa definisi dari beberapa pakar, yaitu:
1. Kebudayaan adalah suatu keseluruhan yang kompleks, yang mencakup kepercayaan, pengetahuan, seni,moral, hukum, adat-istiadat dan kecakapan-kecakapan dan kebiasaan-kebiasaan lainnya yang diperoleh/dihasilkan manusia sebagai anggota masyarakat (Edy Taylor).
2. Kebudayaan ialah suatu keseluruhan hasil kedudukan manusia dari tata kelakuan yang diperoleh dengan belajar dan yang tersusun dalam kehidupan masyarakat (Koentjaraningrat).
3. Kebudayaan ialah semua hasil karya dari cipta, rasa, dan karsa manusia (Selo Soemardjan dan Soemardi).
Kebudayaan terbagi atas 2, yaitu;
1. Kebudayaan material (berwujud konkret)
2. Kebudayaan non material (berwujud abstrak)
Unsure-unsur kebudayaan
Menurut C.Klucjkhoholn, ada 7 macamunsur kebudayaan ,yaitu:
a. System religi dan upacara keagamaan
b. System dan organisasi kemasyarakatan
c. System pengetahuan
d. Bahasa
e. Kesenian
f. System mata pencaharian untuk hidup
g. System teknologi dan peralatan

Menurut Ralph Linton, unsure kebudayaan mulai dari yang terbesar ke yang terkecil, yaitu:
1. Cultural universe
2. Cultural activities (hidup untuk berburu)
3. Trait complexes (berburu dengan panah).
4. Traits (panah)
5. Items (tombak).
Kebudayaan dan kepribadian
Dua pakar yang memberikan pengertian tentang kepribadian, yaitu:
a. Theodore Neocamb, kepribadian merupakan organisasi atau himpunan dari sikap-sikap yang dialami seseorang sebagai latar belakang dari perilakunya.
b. Allport, Kepribadian merupakan organisasi dinamis dari system psikofisik seseorang yang menentukannya dalam mengadakan penyelesaian terhadap lingkungan secara khas.
Factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang, yaitu:
a. Factor biologis,
b. Psikologis,
c. Sosiologis,
d. Budaya,
e. Lingkungan alat fisik,
f. Kebudayaan khusus.
Lembaga kemasyarakatan /sosial
Ada 3 istilah yang biasa digunakan dalam sosial institution, yaitu:
a. Bangunan sosial
b. Pranata sosial
c. Lembaga sosial
Lembaga kemasyarakatan ialah struktur sosial beserta perlengkapannya yang dengan struktur sosial ini masyarakat manusia mengatur, mengarahkan dan melaksanakan berbagai kegiatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Major polak menegaskan bahwa institusi atau lembaga merupakan system peraturan, sedangkan asosiasi ialah kelompok yang berstruktur dan bertindak menurut peraturan tersebut.

Norma dan macam-macamnya:
a. Alvin Bertrand, norma ialah tingkah laku yang diterima atau diperlakukan dalam keadaan tertentu.
b. Menurut sheriff and sheriff, norma ialah pengertian umum yang seragam antara anggota kelomok mengenai cara-cara bertingkah laku yang patut dilakukan oleh anggota apabila mereka berhadapan dengan situasi yang bersangkut paut dengan kehidupan berkelompok.
Beberapa norma menurut tingkatannya:
1. Robbin M. Williams
a. Norma teknis atau kognitif
b. Norma konvensi
c. Norma moral
2. Alvin Bertrand]
a. Folkways (kebiasaan)
b. Mores (tata kelakuan)
c. Louis (aturamn atau hukum)
3. Selo sumardjan dan Sulaiman Sumardi
a. Cara, norma yang mempunyai sanksi ringan.
b. Kebiasaan, cara bertingkah laku yang sering dilakukan dan diterima.
c. Tata kelakuan, kebiasaan yang memilki norma yang mengatur kelakuan.
Tipe-tipe atau macam lembaga sosial
1. Menurut perkembangannya dibedakan menjadi 2, yaitu;
 Muncul atau tumbuh dengan sendirinya
 Ditumbuhkan dengan sengaja
2. Menurut kepentingannya:
 Basic institution
 Subsidiary institution (tidak penting atau pokok, lembaga rekreasi)
3. Menurut penerimaannya;
 Diterima
 Tidak diterima
4. Menurut penyebarannya:
 Menyeluruh
 Terbatas
5. Menurut fungsinya, dibedakan menjadi 2, yaitu:
 Menghimpun
 mengendalikan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar