Sabtu, 21 Maret 2015

Doa Kakek Becak




Doa Kakek Becak

Oleh: Nurholis
Mentari yang muncul di ufuk timur kali ini tak biasanya kusambut dengan perasaan gundah. Sebaris kalimat yang terlontar dari kepala SMP  Negeri 8 tempo hari membuat aku dan seluruh teman-teman mahasiswa peserta PPL menjadi tersulut emosinya. Sebuah kalimat yang membanding-bandingkan kami dengan mahasiswa yang mengadakan PPL di sekolah tersebut tahun sebelumnya.  Kami jadi geram dan ingin membuktikan bahwa kami tidak bisa dibandingkan dengan mereka. Sejenak aku berpikir bahwa ini hanyalah upaya provokatif dari beliau agar kami mau berbuat lebih dan mengeluarkan dana untuk sekolah. Hikmah kembali harus kugali dari peristiwa itu. Mencoba bersikap tenang dan berusaha menenangkan yang lain. Tetapi harus tetap dihadapi dengan kepala dingin.

Deru laju bebek honda oranye setia membawaku menuju gedung-gedung sekolah  jingga bantuan pendidikan Australia. Menjadi tempat harapan bangsa mengais asa. Uang hasil patungan telah kami kumpulkan. Program terakhir perkuliahan  disana adalah memberikan kesan yang baik dan meninggalkan sesuatu yang kiranya dapat bermanfaat buat anak-anak didik “sementara” kami. Rak-rak perpustakaan akan kami penuhi dengan deret buku sastra dan kamus-kamus tebal. Laboratoriumnya pun akan kami hias dengan manekin rangka dan display IPA yang interaktif dan memicu kuriositas siswa.
Sepeda motor telah terstandar, kumiringkan ke kiri. Turun dengan pasti. Setelah kubagi senyum pada siswa dan beberapa guru yang melintas, kulangkahkan kaki menuju ruang UKS, sebuah ruangan yang sengaja disiapkan sebagai home base mahasiswa yang sedang mendapat tugas mengajar. Di sana sudah menunggu Kahar dan Amir yang jarak rumahnya cukup jauh dari sekolah. Empat teman perempuan kami yang lain sepertinya akan datang sebentar lagi.
Rapat pagi itu aku pimpin tanpa Kahar yang sedang mendapat tugas mengajar pada jam pertama bersama Suriani.
“Hari ini kita akan buktikan bahwa kita beda dengan angkatan XII” lirih pasti aku menyemangati mahasiswa yang mengikuti rapat kecil kami.
“Besok aku akan ke Makassar untuk membeli buku dan alat peraga laboratoriumnya.”
“Terima kasih atas partisipasi semuanya, sehingga dananya bisa terkumpul”
Setelah meminta izin pada guru pamong, Aku kembali menggeber motor menuju Bank. Niatku untuk menyetorkan sejumlah uang agar esok pagi saat berangkat, aku tinggal membawa kartu ATM saja. Sepeda motor ku pacu laju. Tak sampai 15 menit aku telah tiba di tempat parkir salah satu bank nasional. Saat aku turun, kurogoh kantong jas kuningku. Jantungku seketika berdegup kencang tatkala apa yang aku cari tidak juga aku temukan. Dua kantong jas kuningku, saku celana, kantong di kemejaku, tak ada yang lolos dari pencarian. Aku mulai panik. Aku ingat-ingat lagi, dimana aku menaruh buku tabungan dan sejumlah uang yang ku selipkan di dalamnya.
Aku coba mengingatnya lebih keras. Di pelataran parkir yang terik siang itu keringat mulai bercucuran. Uang empat ratus ribu itu bukan jumlah yang sedikit, pikirku. Aku berbalik menuju sekolah dimana aku memulai perjalanan. Perlahan aku sapu pandangan setiap jejak yang aku tinggalkan. Nihil. Setiba di sekolah, aku periksa kembali tas bawaanku kalau-kalau aku memang lupa membawanya. Ternyata tidak.Lalu aku sisir jalan di sepanjang perjalananku kembali ke Bank. Tak juga kutemukan. Hingga tiga kali bolak-balik. Akhirnya aku menyerah. Aku relakan uang tersebut beserta buku tabunganku. Duduk pasrah di depan pintu dorong kantor dengan peluh membasahi jas almamaterku.
Segera setelah itu aku melaporkan kehilanganku pada pihak Bank dan membuat janji untuk membuat buku tabungan yang baru. Kakak di bagian layanan konsumen meyakinkanku kalau tabunganku tetap aman karena penarikan tunai lewat buku tabungan harus disertai kartu identitas dan tanda tangan pemilik rekening.
Dengan langkah gontai aku masuk ke rumah sekembalinya dari sekolah. Hari ini seperti menjadi moment yang berat. Mau tidak mau aku harus mengganti kehilangan uang itu. Aku ambil segelas air dan duduk di ruang makan dengan tatapan kosong. Merenungi dimana gerangan buku tabungan dan uang di dalamnya.
***
Rumah terasa sepi. Ibu sedang di Toko, sedang yang lainnya entah kemana. Ponsel di tas ranselku berdering bersahutan. Saat kuangkat suara cempreng adikku langsung saja menghantam bagai kereta api yang melintas di balik palang pintu rel kereta di jalan raya.
“Mas, Kamu dimana? Bapak Kecelakaan. Sekarang aku di rumah sakit.  Tapi ga papa, kok. Kakinya ini saja yang luka sobek di bagian jemarinya. Sebentar lagi aku, pulang! Kasih tau ibu, ga usah kuatir. Udah dulu, ya!! Cerocosnya cepat dari seberang sana.
Belum sempat aku bicara, ponselnya sudah dimatikan. Apa gerangan yang terjadi. Kok bisa ada luka sobek di jari kaki bapak. Kecelakaan apa yang menimpa bapak. Saat itu memang aku tidak mengabarkan langsung pada Ibu, karena tau, pasti ibu tak kalah paniknya bila mendengarnya.
***
Suara deru motor terdengar sayup, Aku segera keluar dan membantu membopong bapak setelah turun dari sepeda motor.
“Bagaimana Kejadiannya? Kenapa bisa seperti ini?” Aku jadi panik meliat kaki bapak yang digips.
“Masukin dulu ke dalam, Mas. Entar aku ceritain” Balasnya sambil menstandar motor.
***
Setelah aku rebahkan di kursi, sambil sedikit mengaduh bapak mulai bercerita.
“Itu tadi tukang becaknya yang ga ati-ati. Masa’ keluar dari lorong ga ngeliat-liat. Langsung nerobos aja.” Ujar bapak kesal.
“Terus, Bapak tabrak?”
“Bukan, Tadi siang itu, kejadiannya. Bukan kami yang nabrak, Mas. Tapi Tukang becak itu yang nabrak, kami. Tadi Aku yang bawa sepeda motornya, bapak aku bonceng.” Sahut Adikku dari dapur.
“terus, Kok bisa jarinya yang kena?”
“Iya, Kaki bapak nyerempet bemper besi depannya becaknya.”
“Tapi Aku juga kasian Mas, sama tukang becaknya”
“Lho, kok bisa??” Tanyaku heran.
“Iya, Masak bapak marah-marahi itu tukang becak. Sampe suruh-suruh ganti rugi segala. Mana itu bapak tukang becak kayaknya udah tua. Kasian aku ngeliatnya” Adikku sepertinya membela sekali.”
“Emang bapak tadi minta ganti rugi apaan, Dek?”
“Bapak suruh tukang becak itu ganti rugi biaya pengobatannya, Mas. Masak dimintai empat ratus ribu. Kasianlah..”
“Empat Ratus Ribu????”””
Panyula, 20/3/2015





1 komentar:

 

Blogger news

Blogroll

http://www.yayasankalla.com/wp-content/uploads/2011/10/LOGO-ATHIRAH-FIX.png

About