Minggu, 01 Maret 2015

Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia




Dalam studi linguistik atau ilmu bahasa, perbincangan ihwal kalimat lazimnya tidak langsung dimulai dari kalimat itu sendiri. Alasannya, ilmu tata kalimat bermula dari tataran kata. Kata dalam bahasa Indonesia yang jumlahnya luar biasa banyak itu mustahil dapat dipelajari dengan mudah kalau tidak dikelas-kelaskan terlebih dahulu. Nah, hasil dari pengelaskataan atau pengelompokan kata-kata itulah yang kemudian lazim disebut dengan kelas kata.

Banyak pakar bahasa yang ternyata telah berusaha membuat kelas-kelas kata dalam bahasa Indonesia. Nah, sebagai sekadar gambaran ihwal studi kelas kata yang telah dibuat oleh para ahli bahasa Melayu dan bahasa Indonesia itu dapat disebutkan berikut ini seperti yang dituliskan di dalam Kridalaksana (1994).
Pertama, pembagian kelas kata dalam tata bahasa pedagogis di antaranya dapat disebutkan beberapa pakar berikut ini: (1) Joaness Roman pada tahun 1653, (2) George Hendrik "Werndly pada tahun 1736, (3) William Marsden pada tahun 1812, (4) John Crawfurd pada tahun 1852, (5) Raja Ali Haji pada tahun 1857 dan tahun 1859, (6) J. J de Hollander pada tahun 1882, (7) Gerth van Wijk pada tahun 1889, (8) Koewatin Sasrasoeganda pada tahun 1910, (9) Ch. A. van Ophuysen pada tahun 1915, (10) R. O. Winstedt pada tahun 1914, (11) St. Moehammad Zain (1943), (12) S. Takdir Alisjahbana (1953), (13) Madong Lubis pada tahun 1954, (14) I. R. Poedjawijatna dan P. J. Zoetmulder pada tahun 1955, (15) pada tahun 1957.
Selanjutnya kelas kata juga dilakukan oleh para pakar dalam kerangka tata bahasa teknis. Terdapat lima orang tokoh yang dapat disebutkan di sini, yakni (1) Slametmuljana pada tahun 1957, (2) Anton M. Moeliono pada tahun 1967, (3) S. Wojowasito pada tahun 1978, (4) M. Ramlan pada tahun 1985, dan (5) Samsuri pada tahun 1985.
Tentu masih ada beberapa pakar lain yang belum disebutkan di sini mengingat relevansi. Akan tetapi, dari informasi yang disampaikan di depan diperoleh keterangan bahwa studi ihwal kelas kata sesungguhnya sudah dimulai sejak lama. Banyaknya orang yang secara berturutan mengkaji kelas kata juga sekaligus menunjukkan bahwa sesungguhnya kelas kata itu sangat penting untuk dipahami oleh masyarakat pemakai bahasa Indonesia.
Para mahasiswa yang sedang bersiap-siap untuk menyusun karya ilmiah sebagai tugas akhir di perguruan tinggi, yang lazimnya berupa skripsi untuk S-l, benar-benar diharapkan memahami segala seluk-beluk kelas kata seperti yang akan disampaikan berikut ini.
Tidak semua kelas kata akan ditampilkan di sini mengingat relevansi dan kegunaan. Hanya beberapa kelas kata yang dipandang sangat penting dan yang sering mengandung kesalahan di dalam penulisan yang akan disajikan. Maka, cermati dan perhatikanlah dengan baik uraian berikut ini.

1.      Verba
Verba atau kata kerja lazimnya dapat diidentifikasi dengan menggunakan tiga macam cara. Pertama, dengan mencermati bentuk morfologisnya. Kedua, dengan mencermati perilaku sintaksisnya. Ketiga, dengan mencermati perilaku semantisnya. Secara umum, sebagai peranti untuk mengidentifikasi pula, verba atau kata kerja itu dapat didampingi kata 'tidak' untuk menjadikannya negatif.
Berdasarkan ciri morfologisnya, verba di dalam bahasa Indonesia dapat dibedakan menjadi (1) verba dasar atau verba yang tidak berafiks, (2) verba berafiks, (3) verba yang merupakan perulangan atau reduplikasi, dan (4) verba yang merupakan bentuk majemuk. Verba yang merupakan perulangan misalnya adalah 'minum-minum, 'berjalan-jalari. Verba yang merupakan bentuk majemuk misalnya adalah 'naik haji', 'cuci muka'. Adapun untuk dua jenis yang disebutkan sebelumnya, tidak perlu diberikan contoh di sini karena sudah sangat lazim.
Nah, berdasarkan fungsinya atau sering disebut sebagai perilaku sintaksisnya, verba dapat dibedakan menjadi (1) verba yang menduduki fungsi subjek, seperti 'Bekerja keras merupakan keharusan di zaman sekarang, (2) verba yang menduduki posisi keterangan, misalnya Mereka sedang berekreasi di belakang, (3) verba yang menduduki posisi objek, misalnya 'Mereka sedang mengajar membaca dan menulis', (4) verba yang menduduki fungsi pelengkap, misalnya 'Mereka tidak pernah mengeluh'. Kata kerja atau verba dapat dibedakan pula berdasarkan pola interaksinya di dalam kalimat, misalnya ada bentuk 'saling membantah' yang merupakan verba resiprokal, dan verba seperti pada umumnya yang tidak berciri resiprokal.
Dari sisi pembentukannya, verba juga dapat dibentuk dari nomina. Verba atau kata kerja yang demikian ini disebut sebagai 'verba denominal', misalnya verba ‘berbudaya dan 'mencangkul' yang dibentuk dari dasar nomina 'budaya dan 'cangkul'. Maka, verba demikian itu disebut sebagai verba denominal. Selain verba denominal, ada pula verba deadjektival, seperti 'mencintai', 'menyakiti'. Adapun verba yang berciri deadverbial misalnya adalah 'mengakhiri' dan 'mengawali'.
Dalam studi bahasa juga dikenal verba yang tidak pernah dapat dipasifkan, misalnya saja 'meninggal' dan 'mengeong. Tentu saja, tidak akan pernah ada verba pasif yang dihasilkan dari verba itu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa verba demikian ini bersifat antipasif. Selain verba antipasif, dalam studi bahasa juga dikenal verba ergatif, seperti 'tersandung dan 'terantuk'.
Nah, sekarang cermatilah cuplikan teks berikut ini, lalu cermatilah bentuk-bentuk verbanya. Sebut atau namailah verba yang hadir bermacam-macam itu, supaya Anda memiliki pengalaman dalam mengidentifikasi verba di dalam kalimat.

2.      Adjektiva
Adjektiva lazim disebut juga kata sifat. Dari dimensi wujud atau bentuknya dapat dikenali adjektiva dasar, seperti 'cantik', 'adil'. Demikian pula ada adjektiva yang sifatnya jadian atau turunan, misalnya 'alamiati, 'gerejawi', 'surgawi'.
Jenis berikutnya adalah adjektiva yang dari dimensi bentuknya merupakan gabungan atau perpaduan dua adjektiva, misalnya 'cantik jelita' dan 'aman sentausa'. Adjektiva perpaduan dapat dibedakan lagi menjadi dua, yakni perpaduan yang sifatnya subordinatif, seperti bentuk 'panjang tangan dan 'murah hati' dan perpaduan yang bersifat koordinatif, misalnya 'cantik jelita' dan 'aman sentausa' seperti ditunjukkan di bagian depan. Adjektiva juga dapat dinegasikan dengan menggunakan kata 'tidak', persis yang terjadi pada verba atau kata kerja. Jadi, bentuk seperti 'tidak hijau' atau 'tidak pintar' adalah bentuk yang benar.
Ciri lain yang harus diketahui adalah bahwa adjektiva itu dapat didampingi oleh kata-kata berikut, 'sangat', 'agak', 'lebih', 'paling'. Maka, ada bentuk 'sangat pandai' tetapi tidak akan pernah ada bentuk 'sangat duduk' atau 'sangat berdiri'. Jadi, kata- kata yang disebutkan di atas berkolokasi dengan kata sifat atau adjektiva.
3.      Nomina
Nomina disebut juga kata benda. Dari dimensi bentuknya, nomina dapat dibedakan menjadi dua, yakni nomina dasar dan nomina bentukan atau turunan. Disebut sebagai nomina dasar karena nomina itu menjadi dasar untuk kata bentukan yang berikutnya. Jadi, nomina dasar adalah nomina yang belum mendapatkan imbuhan apa pun. Sebagai contoh, kita ambil saja kata 'buku, 'meja', 'rumah'.
Selanjutnya, nomina dasar seperti disebutkan di atas itu dapat dibentuk menjadi nomina turunan dengan alternatif-alternatif berikut ini:
a)   dengan imbuhan 'ke-': kehendak, ketua, kekasih;
b)   dengan imbuhan 'per-': pertanda, persegi, persetan;
c)    dengan imbuhan 'pe-': petani, petembak, petinju, petapa;
d)   dengan imbuhan 'peng-': pengacara, pengacau, pengantar;
e)   dengan imbuhan '-an': tulisan, bacaan, kiriman, bidikan, bisikan;
f)      dengan imbuhan 'peng-an': pengadilan, pengampunan, pengumpulan;
g)   dengan imbuhan 'per-an': persatuan, persemaian, perdamaian, pertahanan, perkumpulan;
h)   dengan imbuhan 'ke-an': kemerdekaan, kesatuan, kesehatan.
Ciri lain dari nomina, selain yang disebutkan di depan, khususnya bahwa nomina tidak dapat didahului oleh partikel 'tidak' adalah bahwa nomina itu memiliki potensi untuk diawali preposisi atau kata depan 'dari'. Berkenaan dengan ini, cobalah nomina-nomina yang disampaikan di depan itu dilekati dengan 'dari' di depannya. Kalau bentuk itu berterima, bentuk kebahasaan itu dapat dianggap sebagai bentuk benar. Dalam kalimat, nomina bisa menduduki pelbagai fungsi.

4.      Pronomina
Pronomina disebut juga kata ganti. Dikatakan sebagai kata ganti karena sesungguhnya pronomina itu berfungsi menggantikan nomina yang menjadi antesedennya. Dengan pemakaian pronomina di dalam kalimat, pengulangan nomina akan dapat dihindari.
Dari sisi bentuknya, nomina dapat dibedakan menjadi (1) nomina persona, (2) nomina penunjuk, dan (3) nomina penanya. Nomina persona dapat menunjuk pada orang, baik dalam hitungan tunggal maupun jamak. Maka, kemudian ada pronomina persona tunggal dan pronomina persona jamak. Pronomina persona tunggal dapat mencakup 'saya', 'aku', 'daku', dan '-ku. Pronomina persona jamak adalah 'kami' dan 'kamu', 'kalian', 'mereka', 'kita.
Selain menunjuk pada persona, pronomina juga dapat merupakan nomina penunjuk seperti 'itu, 'ini', 'sana, 'sini', 'anu'. Pronomina dapat juga berfungsi sebagai pronomina penanya, misalnya 'mengapa', 'kenapa, 'bagaimana, 'yang mana', 'dari mana'. Pronomina juga dapat dibedakan menjadi pronomina yang sifatnya intertekstual, yakni yang menunjuk nomina dalam kalimat yang sama, atau nomina yang sifatnya antartekstual, yakni yang menunjuk pada nomina pada kalimat yang berbeda. Kalimat seperti, 'Karena ketekunannya, Vendi berhasil gemilang jelas sekali mengandung pronomina wjw'yang menunjuk pada nomina Vendi pada kalimat yang sama. Akan tetapi, kalimat seperti 'Saya tidak menyukai tingkahnya yang tidak sopan itu jelas sekali kelihatan bahwa pronomina 'nya itu tidak menunjuk pada nomina yang ada pada kalimat itu.

5.      Numeralia
Numeralia sering disebut juga kata bilangan. Kata itu digunakan untuk menghitung jumlah orang, binatang, barang, dan juga sebuah konsep. Bentuk seperti iima hari" atau 'beberapa masalah' di dalamnya terkandung numeralia, yakni lima' dan 'beberapa'. Dalam bahasa Indonesia dibedakan dua macam numeralia, yakni numeralia pokok dan numeralia tingkat. Numeralia pokok digunakan untuk menjawab pertanyaan 'berapa, sedangkan numeralia tingkat digunakan untuk menjawab pertanyaan 'yang keberapa'. Sebutan lain untuk numeralia pokok adalah numeralia kardinal, sedangkan sebutan lain untuk nomina tingkat adalah numeralia ordinal.
Selanjutnya dapat diperinci lebih lanjut, yakni bahwa numeralia pokok dapat menjadi (a) numeralia pokok tentu, (b) numeralia pokok kolektif, (c) numeralia pokok distributif, dan (d) numeralia pokok tak tentu. Numeralia pokok tentu misalnya saja, 'dua, 'tiga', 'seratus'. Numeralia pokok kolektif misalnya adalah, 'ketiga pada bentuk 'ketiga pemain itu terjatuh, 'berlima' pada bentuk 'kamu berlima. Nomina pokok distributif misalnya adalah 'satu-satu yang artinya 'satu demi satu' atau 'masing-masing satu'. Bentuk 'setiap' atau 'tiap-tiap' dan 'masing-masing adalah nomina distributif. Adapun yang dimaksud dengan numeralia pokok tak tentu adalah nomina yang jumlahnya tidak pasti. Numeralia tak tentu tidak dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan 'berapa'. Contohnya adalah 'berbagai', 'segenap', 'seluruh', 'semua. Di dalam perbincangan ihwal numeralia pokok atau numeralia kardinal juga ada yang disebut numeralia pokok klitika seperti misalnya, 'ekawarna' atau 'pancawarna. Penulisan numeralia pokok klitika harus disatukan dengan nomina yang dilekatinya itu.
Selanjutnya yang dimaksud dengan numeralia tingkat adalah numeralia yang menunjukkan urutan atau tingkatan. Bentuk 'kelima' pada bentuk 'pemain kelima' adalah numeralia tingkat, sedangkan pada bentuk 'kelima pemain' adalah numeralia pokok kolektif.

6.      Adverbial
Adverbia sering disebut pula kata keterangan. Dapat dikatakan sebagai kata keterangan karena kata itu memberikan keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif, atau pada kalimat secara keseluruhan. Dapat pula sebuah kata adverbia menjelaskan adverbia lain yang ada pada kalimat itu.
Dari dimensi bentuknya, terdapat dua macam adverbia dalam bahasa Indonesia, yakni adverbia monomorfemis dan adverbia polimorfemis. Dikatakan sebagai adverbia monomorfemis karena adverbia itu hanya terdiri dari satu morfem atau satu bentuk seperti 'sangat', 'hanya', 'segera', 'agak', 'akan'. Dapat dikatakan sebagai adverbia polimorfemis karena bentuknya lebih dari satu morfem, misalnya 'belum tentu', 'jangan-jangan', 'lebih-lebih', 'mula-mula', 'mau tidak mau, 'tidak mungkin', 'pada mulanya, 'sunggnh-sungguh', 'benar-benar'.
Dari sisi perilaku sintaksisnya, adverbia dapat merupakan kata yang mendahului kata yang diterangkan, seperti pada 'Puisi itu sangat indah'. Kata 'sangat' adalah 'adverbia' dan tugasnya adalah menjelaskan 'indah' yang berada di belakangnya. Ada juga adverbia yang berada di belakang kata yang dijelaskan, misalnya 'Jahat benar kelakuan anak itu.' Kata 'benar' adalah 'adverbia' dan dia menjelaskan kata 'jahat yang telah mendahului hadir di depannya.
Ada pula bentuk kebahasaan yang menunjukkan bahwa adverbia berada baik di depan maupun di belakang bentuk yang diterangkan itu. Misalnya saja, 'Anak itu memang sangat pandai sekali' atau kalimat 'Kami hanya sekadar membenahi saja kesalahan kebahasaan itu. Bentuk yang disebutkan terakhir ini tidak banyak digunakan dalam bahasa tulis karena sifatnya yang tidak baku.
Demikian pula. bentuk kebahasaan seperti 'Mahal amat harga buku ini.' Bentuk di atas itu pun hanya banyak digunakan dalam bahasa lisan, bukan bahasa tulis. Nah, sekarang periksalah kutipan teks ilmiah berikut ini, lalu identifikasilah bermacam- macam adverbia yang ada.

7.      Interogativa
Selanjutnya, interogativa adalah kata yang berfungsi untuk meminta informasi tertentu kepada orang lain. Dengan perkataan lain, interogativa adalah kata yang digunakan untuk menanyakan sesuatu. Interogativa dalam bahasa Indonesia itu mencakup, misalnya 'saja, 'apa', 'siapa, 'berapa', 'mana', 'yang mana', 'mengapa', dan 'kapan'.

8.      Demonstrativa
Demonstrativa adalah kata yang dapat difungsikan untuk menunjukkan sesuatu yang berada di dalam atau di luar sebuah teks atau wacana. Sesuatu yang disebut baik di luar maupun di dalam teks itu disebut dengan 'anteseden'. Adapun kata yang dapat disebut sebagai demonstrativa itu dapat mencakup 'ini', 'itu, 'sana, 'situ', 'berikut', 'begitu'.

9.      Artikula
Artikula di dalam bahasa Indonesia sangat terbatas jumlahnya. Relatif tidak ada persoalan dengan pemakaian artikula dalam teks atau wacana. Partikel yang lazim ditemukan dan digunakan itu di antaranya adalah 'si', 'sang, 'para, 'sri\ Fungsi artikula adalah untuk membatasi makna nomina.
Dalam bahasa Indonesia dapat dibedakan artikula yang menunjuk pada gelar tertentu seperti 'sri', 'sang', 'hang, dan 'dang. Artikula yang menunjuk pada kelompok misalnya adalah 'para', 'kaum, dan 'umat'. Jenis artikula terakhir bertugas menominalisasikan kata yang belum berupa nomina. Penominalan itu dilakukan dengan menggunakan bentuk 'si' seperti pada bentuk 'si manis atau 'si hitam'.
Dalam konteks tertentu, artikula yang digunakan bersama nama orang akan mengonotasikan makna 'tidak suka atau 'mengejek'. Misalnya saja adalah 'si Kunjono' atau 'si Ali' atau 'si terdakwa atau 'si tersangka.

10.  Preposisi
Preposisi atau kata depan lazimnya hadir di depan kata lain di dalam kalimat. Lazimnya, preposisi itu berada di depan nomina, adjektiva, dan adverbial. Nah, kata yang didahului preposisi atau kata depan itu akan membentuk frasa atau kelompok kata. Maka, lalu ada frasa nominal, frasa adverbial, dan frasa adjektival. Preposisi dapat dibedakan menjadi bermacam-macam, ada yang sifatnya dasar, tetapi ada pula yang sifatnya turunan.
Bentuk seperti 'di', 'ke', 'dari', 'pada', dan 'demi' tergolong preposisi atau kata depan yang sifatnya dasar, sedangkan bentuk seperti 'di antara', 'di samping, 'dari luar', 'ke dalam', 'di dalam', 'di atas, 'di bawah', semuanya tergolong preposisi yang sifatnya sudah merupakan turunan.
Sering ditemukan pula bahwa preposisi itu berafiks, misalnya saja 'bersama', 'menurut', 'menjelang, 'beserta', 'seantero', 'sekeliling', 'sekitar', 'sepanjang, 'terhadap', 'seluruh', 'bagaikan', 'mengenai', 'melalui'. Preposisi atau kata depan juga ada yang berciri ko relatif, misalnya saja 'antara.. .dan', 'dari.. .sehingga', 'dari.. .sampai', 'dari... hingga', 'sampai.. .dengan', 'dari...sampai ke.

11.  Konjungsi
Konjungsi atau kata penghubung berfungsi untuk menghubung entitas-entitas kebahasaan di dalam sebuah kalimat. Konjungsi juga dapat digunakan untuk meng- hubungkan entitas-entitas kebahasaan yang ada pada kalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya.
Menurut fungsinya, konjungsi dapat dibedakan menjadi (a) konjungsi koordinatif, yakni konjungsi yang bertugas menghubungkan satuan-satuan kebahasaan yang sejajar, (b) konjungsi subordinatif, yakni konjungsi yang bertugas menghubungkan satuan- satuan kebahasaan yang tidak sejajar karena yang satu merupakan induk kalimat dan yang lainnya merupakan anak kalimat, (c) konjungsi korelatif, yakni konjungsi yang kehadirannya mensyaratkan kehadiran konjungsi yang lainnya karena bentuk-bentuk kebahasaan itu memang saling berkorelasi.
Jenis yang pertama dapat disebutkan misalnya 'dan', 'maka', 'tetapi', 'melainkan', 'sedangkan'. Jenis yang kedua dapat disebutkan misalnya 'karena, 'sehingga.', 'jika', 'sebab', 'ketika'. Adapun jenis yang ketiga dapat disebutkan misalnya 'antara.. .dan', 'tidak.. .tetapi', 'baik.. .maupun', 'bukan.. .melainkan'. Nah, berdasarkan posisinya, ada yang disebut sebagai konjungsi intrakalimat dan konjungsi antarkalimat.
Konjungsi intrakalimat menghubungkan entitas kebahasaan yang ada dalam kalimat, sedangkan konjungsi antarkalimat menghubungkan entitas kebahasaan yang ada dalam sebuah kalimat dengan entitas kebahasaan yang berada di luar kalimat itu. Baik konjungsi koordinatif, subordinatif, maupun korelatif semuanya termasuk konjungsi intrakalimat kalau diperiksa berdasarkan posisinya.
Adapun konjungsi antarkalimat itu akan mencakup konjungsi seperti 'oleh karena itu, 'maka dari itu , selanjutnya.', 'oleh sebab itu, 'walaupun demikian, 'dengan demikian', 'tambahan pula, 'lagi pula.

12.  Interjeksi
Interjeksi sering pula disebut kata seru. Kata ini bertugas mengungkapkan rasa hati seseorang. Interjeksi tidak memiliki hubungan dengan unsur lain di dalam kalimat. Juga dengan kalimat yang menyertai kata seru atau interjeksi itu.
Jadi, fungsinya semata-mata untuk mengungkap perasaan itu. Beberapa interjeksi dapat disebutkan di sini: 'syukur', 'nah', 'sialan', 'idih', 'aduh', 'astaga', 'alhamdulillah', 'masyaallah', 'astagfirullah', 'aduhai', 'asyik', dan beberapa lagi yang lainnya.
Sumber:

Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum. 2010. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Penerbit Erlangga dalam Diktat Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

http://www.yayasankalla.com/wp-content/uploads/2011/10/LOGO-ATHIRAH-FIX.png

About